Uang muka dalam Murabahah, boleh gak sih?

Uang Muka dalam Murabahah

Dalam Fatwa DSN No. 13/DSN-MUI/IX/2000 tentang Uang Muka dalam Murabahah telah membolehkan penjual meminta pembeli untuk menyerahkan uang muka dalam Murabahah sebagaimana dijelaskan :

LKS boleh meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat.

            Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan.

            Jika nasabah membatalkan akad murabahah, nasabah harus memberikan ganti rugi

            kepada LKS dari uang muka tersebut.

Uang Muka dalam Fiqh :

  1. Hamisy al – jiddiyah

Hamisy al – jiddiyah adalah uang muka yang diserahkan calon pembeli kepada calon penjual dengan ketentuan, jika pembeli jadi melakukan akad beli, maka besaran tersebut menjadi bagian dari harga jual. Tetapi, jika pembeli tidak jadi melakukan akad beli, maka besaran harga urbun / uang muka akan diambil sebesar kerugian riil yang dialami penjual akibat pembatalan akad.

  1. Hukum Urbun

Urbun adalah uang muka yang diserahkan calon pembeli kepada calon penjual dengan ketentuan, jika pembeli jadi melakukan akad beli, maka besaran harga Urbun menjadi bagian harga jual. Tetapi, jika tidak jadi melakukan akad beli, maka besaran harga Urbun akan diambil oleh penjual.

 

Akad Murabahah menggunakan ketentuan hukum Hamisy al – jiddiyah karena lebih adil dan tidak merugikan pihak akad, khususnya pembeli. Berbeda dengan Urbun, dimana pembeli akan kehilangan seluruh uangnya apabila membatalkan akad beli.

Uang muka dalam akadn Murabahah memiliki maqashid agar penjual mendapat jaminan dari pembeli atas asset / barang yang dijualnya akan dibayar.

Contoh :

Bapak Adi adalah seorang petani, ia  ingin membeli sebuah mesin traktor untuk kelancaran usahanya. Bapak Adi meminta bank syari’ah untuk mencarikan mesin tersebut. Bapak Adi melakukan kesepakatan akad Murabahah, dimana bank syari’ah mencarikan / membeli barang yang diinginkan oleh nasabah, dan memberitahu nasabah harga asli dan besaran keuntungan yang diambil oleh bank. Harga mesin tersebut, sebesar Rp. 20.000.000 dan besaran keuntungan Rp. 2.000.000. Kemudian bank melakukan kesepakatan dengan Bapak Adi untuk menbayarkan sejumlah uang sebagai uang muka Rp.2.000.000. Dengan kerugian ril Rp.2.500.000, apabila nasabah membatalkan akad.

Dalam hal ini bank mengunakan hukum Hamisy al – jiddiyah sesuai fatwa DSN MUI. Posisi uang muka tersebut apabila akad beli jadi dilaksanakan, maka akan menjadi besaran harga beli. Kemudian ketika barang telah ada pada waktu yang disepakati Bapak Adi harus membayar mesin tersebut dengan jumlah sisa dari uang muka yang diberikannya, yaitu Rp. 20.000.000. Jika Batal melakukan akad pembelian, maka uang muka tersebut menjadi ganti rugi atas kerugian bank dan Bapak Adi harus menambah uang Rp.500.000 sebagai tambahan untuk menutup kerugian yang dialami bank.

Leave a Reply

%d bloggers like this: