Apa itu Rahn Tasjily ?

Rahn Tasjily

 

Kegiatan gadai (Rahn) adalah suatu hak yang diperoleh kreditur (Murtahin) atas suatu barang bergerak (Marhun), yang diserahkan kepadanya oleh debitur (Rahin), atau oleh kuasanya, sebagai jaminan atas utangnya. Pada dasarnya, dengan akad Rahn, maka mahrun itu dikuasai oleh murtahin sebagai jaminan atas utang agar akad tersebut menjadi lebih kuat karena ada suatu barang yang dijadikan jaminan atas pinjam meminjam tersebut. Sesuai dengan firman Allah SWT :

سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى

Artinya :

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah (2) : 283)

 

Ketentuan ini memiliki maqashid (tujuan) yaitu agar marhun bisa dieksekusi oleh murtahin. Hal yang sama tidak bisa dilakukan jika mahrun tidak diserahkan ke murtahin dan masih di tangan rahin. Seperti di Indonesia, sering kita lihat banyak masyarakat yang melakukan rahn dengan menggadaikan surat-surat berharga seperti BPKB motor atau mobil, Sertifikat tanah, dan bukti kepemilikan lainnya. Akad dengan menggadaikan surat-surat tersebut, disebut akad Rahn Tasjily.

 

Dalam fatwa DSN_MUI No.68/DSN-MUI/III2008 tentang Rahn Tajsily, dijelaskan bahwa Rahn Tasjily adalah jaminan dalam bentuk barang atas utang, dengan kesepakatan bahwa yang diserahkan kepada penerima jaminan (murtahin) hanya bukti sah kepemilikannya, sedangkan fisik barang jaminan tersebut (marhun) tetap berada dalam penguasaan dan pemanfaatan pemberi jaminan (rahin).

 

Standar yang dijadikan illat dalam akad ini adalah Urf’, sesuai dengan kaidah fikih :

الْعُرْفِ إِلَى يُرْجَعُ مُطْلَقًا الشَّرْعُ وَرَدَ مَا كُلُّ

Setiap ketentuan syariah yang masih mutlak (umum) maka yang menjadi rujukan adalah urf’ (tradisi).”

 

Berdasarkan maqashid diatas, maka bukan marhun yang harus ada di tangan murtahin. Tetapi bagaimana marhun itu bisa dijadikan jaminan dan bisa dieksekusi. Jadi, transaksi Rahn Tasjily adalah transaksi yang diperbolehkan, karena menurut tradisi bukti kepemilikan bisa dijadikan jaminan. Namun asset yang tidak ada bukti kepemilikannya seperti emas, yang bisa dijadikan jaminan adalah emas itu sendiri. Karena surat emas tidak menunjukkan atas pemiliknya.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: