Sudah benarkah giro wadiah dalam bank syariah?

 

TRANSAKSI YANG BERLAKU DALAM PRODUK GIRO WADIAH

Dalam form aplikasi transaksi giro dan tabungan wadiah yang disepakati antara nasabah dan bank-bank syariah tercatat beberapa hal berikut :

  • Akad yang digunakan adalah akad wadiah (yad dhaman), yakni nasabah sebagai penitip dana (mudi) dan bank sebagai penerima titipan (muda alaih). Selanjutnya bank menggunakan dana titipan tersebut, sehingga bank bertanggung jawab (yad dhaman) untuk mengembalikan dana giro kapan saja diminta nasabah.
  • Banka juga memberikan bonus sebagau athaya. Yakni atas kehendak sepihak dari bank dan tanpa disyaratkan bank memberikan bonus nasabah pemilik giro

Dalam fiqih para ulama sepakat jika wadi (penerima titipan) adalah  yad amanah? Amin (terpercaya) ; artinya jika tidak bertanggung jawab atas resiko kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobahan penerima titipan dalam memelihara barang titipan. Diantara dalil yang menjelaskan bahwa wadiah/titipan adalah akad amanah (tidak ada jaminan) adalah :

  • “ penerima titipan itu tidak menajamin”
  • Karena Allah menamkannya amanat dan berbeda dengan jaminan
  • Wadi (penerima titipan) telah menjaga titpan tersebut tanpa imbalan , jika ia harus menjamin kehilangan titipan, maka masyarakat enggan untuk menerima titipan orang lain padahal jasa ini sangat dibutuhkan masyarakat.

Transaksi wadiah ini termasuk akad wakalah, dfimana penitip asset mewakilkan kepada penerima titipan untuk menjagnya . penerima titpan tidak boleh memanfaatkan barang tersebut karena itu pelanggaran terhadap muqtadha \( tujuan akad wakalah). Jika wadi (penerima titpan memanfaatkan , maka ia bertanggung jawab untuk mengembalikan barang tersebut seperti semula.

Dengan begitu akada wadiah telah berubah menjadi akad al-qordh(kredit) , maka tidak boleh mensyaratkan tambahan apapun karena nanti jatuhnya menjadi riba

Jika pihak penerima titipan menggunakannya , maka ia bertanggung jawab mengembalikan barang titipan tersebut kepada penitip karena substansi  wadiah dan qordh itu berbeda. Diantar perbedaanya yaitu :

  1. Dari sisi kepemilikan, qardh menjadi milik debitur dan akan dikembalikan kepada kreditor. Sedangkan wadiah tidak menjadi milik penerima titipan tetapi menjadi milik penitip dan harus dikembalikan barangnya.
  2. Dari sisi kemanfaatan , debitur bisa memanfaatkan pinjaman karena telah menajdi miliknya, sedangan penerima titipan tidak boleh memanfaatkannya tetapi harus menjaganya dan mengembalikan barangnya sesuai tujuan kontrak .
  3. Dari sisi upah, penerima titipan boleh mendapatkan jasa titipan , sedangkan pemberi pinjaman tidak mendapatkan jasa pinjaman.

Contoh kasus  :  Wadiah adalah titipan murni yang tidak memperoleh bagi hasil yang diperja njikan di awal. Umumnya bank syariah memberikan bonus pada nasabah produk wadiah. Namun bonus tersebut tidak boleh diperjanjikan, murni nisisatif bank dan merupaka pendapatan bank yang dihibahkan kepada nasabah. Wadiah harus selalu bersifat 0n-call yang likuid ( dapat diambil sewaktu waktu)

Cara transaksi giro wadiah secara prinsip sama dengan konvensional , yaitu dengan cek atau pemindah bukan dengan bilyet giro. BTN syariah tidak ada bunga, hanya saja kemungkinan dapat diberikan bonus, yang sifatnya tidak diperjanjikan dan berikan atas kebijaksanaan BTN syariah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: