Macam-macam Resiko dalam Islam

 

Resiko (Risk) Menurut Islam

Dalam islam, resiko bisa dibedakan menjadi 2 hal, seperti perkatan ibnu taimiyah di Majmu’ fatwa :

“Resiko terbagi menjadi dua, yang pertama adalah resiko bisnis, yaitu seseorang yang membeli barang dengan maksud menjualnya kembali dengan tingkat keuntungan tertentu, dan dia bertawakkal kepada Allah atas hal tersebut. Ini merupakn resiko yang harus diambil oleh para pebiosnis. Bisnis tidak mungkin terjadi tanpa hal tersebut.

Yang kedua adalah maisir yang berarti memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Spekulasi inilah yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya”

Berikut uraiannya :

  1. Resiko dalam berinvestasi

Dalam investasi/bisnis resiko harus berbanding lurus dengan keuntungan. Berikut ini 3 kriteria resiko dalam bisnis :

  1. Dapat di abaikan (al-gharar al yasir)

Misalnya anda membeli 100 kg jeruk dari seorang petani, kemudian anda mencoba 1 buah jeruk tersebut, ternyata rasa nya manis. Sa’at anda menjual nya kembali, ternyata ada pelanggan yang complain karena jeruknya asam. Dari sini dapat kita ketahu bahwa tidak semua jeruk rasanya manis dan asam, dan tidak mungkin pula anda mncoba semua jeruk yang akan anda jual.

  1. Tidak dapat dihindarkan (Inevitable/la yumkinu at-taharruz ‘anhu)

Misalnya anda menjual produk makanan seperti sambal dari bahan cabai, lalu sebulan kemudian harga cabai meningkat 200% karena adanya kebijakan dari pemerintah. Resiko seperti ini tidak bisa dihindarkan karena tergantung pada keadaan dari bahan baku, masyarakat maupun pemerintah.

  1. Tidak diinginkan dengan sengaja (unintentional/ghairu maqshud)

Misalnya anda adalah supir angkot, untuk menghindari resiko seperti ban bocor, mesin rusak atau hilang pelanggan, anda membawa ban cadangan, alat reparasi, dan anda memodifikasi angkot anda. Dalam hal ini, anda dengan sengaja menghidari resiko yang tidak diinginkan.

 

 

 

  1. Resiko dalam maisir dan spekulasi yang sudah jelas haram

Maisir adalah memperoleh keuntungan tanpa kerja keras, seperti halnya berjudi, taruhan sabung ayam, taruhan bola dan sebagainya. Dalam agama islam, maisir sangat dilarang, karena dapat merugikan dan menzholimi pihak lain. Kemudian spekulasi, seperti membayar upah kepada dukun untuk meminta nasihat, ramalan maupun jimat, karena spekulasi adalah untung untungan yang tidak jelas dan diharamkan oleh agama islam. Misalnya anda kedukun (na’udzu billahi min dzalik) kemudian anda membeli jimat dari dukun tersbut untuk memberikan kejayaan pada perusa’an an anda. Ternyata 2 tahun kemudian perusaha’an anda bangkrut karena hutang yang besar. Dari sini dapat kita ketahui bahwa jimat tidak dapat memberi segala bentuk keuntungan, karena itu semua tergantung dari niat, do’a, dan usaha kita.

 

Kemudian adalah resiko untuk beberapa akad, diantaranya adalah :

  1. Mudharabah

Misalnya anda menyetorkan modal sejumlah 5 juta kepada toto untuk jualan es krim keliling dengan syarat membayar 100 ribu setiap bulan dari hasil usahanaya. Kemudian tanpa diduga si toto tertabrak mobil saat seang berjualan, sehingga dirinya masuk rumah sakit dan dagangannya hancur. Inilah resiko dalam mudharabah

  1. Muraba’ah

Misalnya anda menjual laptop dengan garansi setahun. Lalu seorang konsumen membelinya. Baru 6 bulan berjalan ternyata laptopnya sudah rusak parah, dan anda sebagai penjual harus bertanggung jawab atas barang yang anda jual sesuai nisbah. Inilah resikonya

  1. Ijarah

Misalnya anda menyewakan motor kepada seorang kuproy, kemudian motor tersebut rusak sebulan kemudian. Anda sebagai penyewa harus memperbaiki motor tersebut agar bisa kembali disewakan kepada kuproy itu.

  1. Muzara’ah dan Mukhabarah

Yang membedakan muzara’ah dan mukhabarah hanyalah soal bibitnya saja. Jika muzara’ah bibit berasal dari petani sedangkan mukhabarah bibit berasal dari pemilik lahan. Misalnya anda melakukan akad muzara’ah kepada petani untuk menanamkan pohon jagung di sawah anda. Kemudian pettani tersebut membeli bibitnya dan menanamnya, lalu sa’at masa panen ternyata 1/3 dari bibit tersebut gagal tumbuh dan berbuah. Dan itulah resiko anda sebagai penyedia lahan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: