Hukum multi akad dalam transaksi, boleh apa enggak?

Gadai emas adalah produk bank syariah berupa fasilitas pembiyaan dengan cara memberikan utang (qardh) kepada nasabah dengan jaminan emas dalam sebuah akad gadai (rahn). Bank syariah selanjutnya mengambil upah atas jasa penyimpanan yang dilakukannya atas emas tersebut  berdasarkan akad ijarah (jasa). Jadi, gadai emas merupakan akad rangkap (multi-akad), yaitu gabungan akad rahn dan ijarah. (liat Fatwa DSN MUI No 26/DSN-MUI/III/2002 tentang gadai emas)

Hukum Multiakad

Terdapat khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya multiakad. Pertama : pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat Imam Asyhab dari mazhab Maliki, juga pendapat Ibnu Taimiyah dari mazhab Hambali, dan pendapat Imam At-Tasuli. Dalil pendapat pertama ini antara lain kaidah fikif yang artinya “Hukum asal muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya”.

Berdasarkan kaidah ini, penggabungan dua akad atau lebih dibolehkan karena tidak ada dalil yang melarangnya. Adapun nas-nas yang secara lahiriah melarang penggabungan dua akad tidak dipahami sebagai larangan mutlak, melainkan larangan karena disertai unsur kaharaman seperti gharar, riba dan sebagainya.

Kedua : pendapat yang mengharamkannya. Ini adlah pendapat jumhur ulama. Ini adalah pendapat ulama mazhab Hanafi dan pendapat ulama mazhab Syafi’i. Dalil pendapat kedua ini adlah hadis-hadis yang melarang dua syarat atau dua akad, antara lain hadis Hakim bin Hizam ra. yang artinya “Nabi saw. telah melarang aku dari empat macam jual-beli yaitu: (1) menggabungkan salaf (jual-beli salam/pesan); (2) dua syarat dalam satu jual-beli; (3) menjual apa yang tidak ada pada dirimu; (4) mengambil laba dari apa yang tak kamu jamin kerugiannya”. Dalil lainnya adalah hadis berikut “Nabi saw. telah melarang adanya jual-beli dalam satu jual beli”. Hadis-hadis tersebut telah menunjukkan adanya larangan penggabungan lebih dari satu akad.

Leave a Reply

%d bloggers like this: