Bagaimana menyikapi kepemilikan dana non halal ?

 

KEPEMILIKAN DANA NON HALAL

Para ulama sepakat tentang dua hal penting:
Pertama, Pendapatan non halal hukumnya haram, oleh karena itu tidak boleh dimanfaatkan oleh pemiliknya (pelaku usaha haram tersebut) untuk kebutuhan (hajat) apapun, baik secara terbuka ataupun dengan cara hilah, seperti digunakan untuk membayar pajak.

Kedua, Modal usaha tetap halal, jika bersumber dari usaha yang halal.

Ketiga, Pendapatan non halal harus diberikan atau disalurkan kepada pihak lain sebagai sedekah.

Sebagaimana penjelasan dalam StandarSyariah AAOIFI Bahrain sebagai berikut:

“Pendapatan non halal tidak boleh dimanfaatkan untuk kegiatan apapun, walaupundengancarahilah, seperti digunakan untuk membayar pajak.”

Sesuai juga dengan kaidah fikih:

Setiap pendapatan yang tidak bisa dimiliki, maka (pendapatantersebut) tidak bisa diberikan (kepada pihak lain).”

            Sesuai dengan standar syariah AAOIFI dan kaidah fikih di atas, maka pendapatan non halal tidak boleh dimanfaatkan oleh pemiliknya dan harus disedekahkan kepada pihak lain.

            Dari aspek maqashid, setiap pendapatan yang dihasilkan dengan cara yang tidak halal itu tidak bisa dimiliki oleh usaha tidak halal tersebut. Oleh karena itu, usaha non halal tidak melarikan kepemilikan sebagai sansi (zajr) atas keterlibatannya dalam usaha yang tidak halal (hifdzul amwal min janib al-‘adam).

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: