Bagaimana cara pengalihan piutang secara syariah?

Pengalihan Piutang

Dalam fatwa DSN tentang pengakihan pembiayaan dijelaskan bahwa pengalihan pembiayaan murabahah dengan menggunakan akad murabahah itu dilarang dalam Islam karena termasuk bai’ al-‘inah.

Contoh :

  1. Nasabah memiliki utang (angsuran) ke Bank Syariah A.
  2. Nasabah yang kesulitan membayar cicilan murabahah mengajukan permohonan pengalihan utangnya ke Bank Syariah B.
  3. Bank Syariah B melunasi utang nasabah ke Bank Syariah A sehingga utang nasabah ke Bank Syariah A lunas. Dengan begitu, nasabah berutang kepada bank B.
  4. Nasabah membayar utangnya kepada Bank Syariah B secara berangsur plus margin.

Contoh kegiatan diatas dilarang, karena terdapat 2 akad yang sama di dalam satu transaksi.

Fatwa kontemporer yang menegaskan bahwa pengalihan utang pembiayaan dengan akad hawalah bil ujrah itu di bolehkan. Yaitu dengan mengalihkan utang murabahah dari satu nasabah ke nasabah lain dengan sisa cicilannya. Atau bisa juga dengan MMQ yaitu  dengan sistem penyewaan dengan cara bank B membeli barang yang di cicil nasabah kepada bank A  dan nasabah  menyewa barang tersebut kepada bank B, dan terdapat juga akad IMBT yaitu antara bank B dan nasabah kerjasama untuk melunasi barang yang dicicil oleh nasabah di Bank A, tetapi nasabah  harus mempunyai modal.

Pengalihan pembiayaan murabahah dengan akad yang sama itu termasuk bai’ al’inah karena sesungguhnya bank membeli aset dari nasabah, kemudian menjual kembali ke nasabah, inilah sesungguhnya substansi bai’ al’inah.

Maqashid pada kasus ini adalah untuk memudahkan  nasabah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: