Ada apa dengan Sukuk?

Sukuk berasal dari kata sakk yang berarti dokumen atau lembaran kontrak. Dalam UU No. 19/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam Ketentuan Umum pasal 1 dikatakan bahwa sukuk adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.

Tipe sukuk menurut AAOIFI , Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institution ada empat puluh jenis sukuk, walaupun saat ini hanya empat tipe sukuk yang terkenal, yaitu, sukuk musyarakah, sukuk mudharabah, sukuk ijarah didasarkan atas leasing transaction, dan sukuk istishna’. Berikut akan dibahas keempat sukuk tersebut secara ringkas beserta contohnya.

 

  1. SUKUK MUSYARAKAH

Musyarakah adalah kerjasama atau kemitraan dimana dua orang atau lebih bersepakat menggabungkan modal dan terlibat dalam pengelolaan usaha tersebut.

Contoh :

Suatu badan usaha memerlukan tambahan modal untuk pengembangan usaha, maka ia menerbitkan sukuk untuk memperoleh modal. Pengembangan usaha merupakan obyek transaksi yang menentukan jenis perikatan. Jika badan usaha menghendaki bentuk kerjasama dalam pengembangan usaha, maka dapat menggunakan akad kerjasama (syirkah). Sehingga sukuk yang diterbitkan adalah sukuk musyarakah

 

  1. SUKUK MUDHARABAH

Sukuk mudharabah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih, satu sebagai penyedia modal dan pihak lain sebagai penyedia tenaga dan keahlian. Keuntungan dari kerjasama tersebut akan dibagi berdasarkan nisbah yang telah disetujui sebelumnya, sedangkan kerugian yang terjadi akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak penyedia modal kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian penyedia tenaga dan keahlian. Investor dalam sukuk ini akan mendapatkan return sesuai presentase kepemilikan saham yang dimiliki.

Contoh :

Berlian Laju Tanker telah menerbitkan obligasi mudharabah senilai Rp 100 miliar. Dananya digunakan untuk membeli kapal tanker (66%) dengan tambahan modal kerja perusahaan (34%). Obligasi berjangka waktu 5 tahun yang dicatatkan di BES dan KSEI ini memperoleh keuntungan dari bagi hasil berdasarkan pendapatan perseroan dari pengoperasian kapal tanker MT Gardinii atau kapal lain yang beroperasi untuk melayani Pertamina sehingga ­return-nya berubah setiap tahun sesuai pendapatan.

 

  1. SUKUK IJARAH

Sukuk ijarah adalah akad yang satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menyewakan hak atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga sewa dan periode sewa yang sudah disepakati tanpa diikuti perpindahan kepemilikan aset itu sendiri. Dalam struktur sukuk ini, investor akan mendapatkan return dari aset yang disewakan secara periodic. Pemilik aset bertanggung jawab atas seluruh biaya pemeliharaan dan kerusakan dari aset yang disewakan.

Contoh :

Pemerintah membutuhkan pinjaman dana sebesar 10 milyar rupiah dengan jangka waktu pengembalian 10 tahun. Untuk itu, pemerintah menjual sebuah gedung kantornya kepada bank seharga 1 milyar. Disyaratkan bahwa bank tidak boleh menjual maupun menyewakan gedung tersebut kepada pihak selain pemerintah. Bank menghimpun dana dari masyarakat dengan cara menjual lemabaran-lembaran sukuk. Sukuk yang djual sebanyak 1000 lembar dengan nilai tiap lembarnya 1 juta rupiah sehingga semuanya bernilai 1 milyar rupiah. Hasil penjualan sukuk digunakan Bank untuk membeli gedung tersebut. Pemerintah menyewa gedung tersebut dari Bank dengan biaya sewa tahunan. Bank menyalurkan biaya sewa yang diperoleh kepada para pemegang sukuk yang proporsinya disesuaikan dengan jumlah lembaran yang dimilikinya. Setelah 10 tahun, Pemerintah membeli kembali gedung tersebut dari Bank seharga 1 milyar rupiah. Bank membeli kembali semua lembaran sukuk dari para pemegangnya dengan harga yang sama (1 juta tiap lembar).

 

  1. SUKUK ISTISHNA

Sukuk istishna adalah akad jual beli aset berupa obyek pembayaran antara dua pihak dimana spesifikasi, cara, dan jangka waktu penyerahan, serta harga aset tersebut ditentukan berdasarkan kesepakatan dua pihak. Sukuk istishna merupakan sertifikat yang digunakan untuk memobilisasi kebutuhan dana untuk memproduksi barang yang dimiliki dengan bukti kepemilikan sertifikat. Sukuk istishna sangat bermanfaat untuk pembiayaan proyek infrastruktur dengan nilai yang sangat besar, namun sukuk ini tidak boleh diperjualbelikan di secondary market.

Contoh :

September 2014, infrastruktur Indonesia berada di peringkat 82 dari 148 negara yang dinilai. Untuk mengatasi rendahnya layanan infrastruktur akibat kecilnya anggaran pembangunan infrastruktur dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), maka pemerintah harus mencari sumber dana alternatif selain APBN, yaitu menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). Pada kenyataannya, saat pemerintah menerbitkan SUN tidak pernah lepas dari beban besaran bunga yang ditetapkan investor sehingga beban APBN bertambah. Maka diperlukan alternatif pendanaan lain yang bebas dari bunga dan tidak adanya intervensi asing serta sesuai hukum islam, yaitu dengan sukuk istishna.

Sukuk istishna sangat cocok untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur karena margin atau keuntungannya sudah pasti dan jumlah nominalnya ditetapkan di awal. Hal ini sangat menguntungkan investor disbanding dengan akad muharabah atau musyarakah yang keuntungannya belum pasti. Karena dengan sukuk istishna, dana yang dihasilkan dari penerbitannya bisa langsung digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang produktif, sehingga ketika sukuk sudah jatuh tempo, pemerintah dapat membayarnya kepada investor dari hasil proyek infrastruktur tersebut.

Leave a Reply

%d bloggers like this: