Wisata halal (dilema) bulan Ramadhan

 

Sebagai produk unik dan baru, wisata halal atau wisata yang ramah dengan kebutuhan gaya hidup muslim seperti makanan, penginapan hingga fasilitas ibadah terus mengalami perkembangan. Merujuk dari state of global islamic economy report  yang dikeluarkan Thomson reuters Islamic Finance 2016 bahwa Industri pariwisata muslim mencapai US$ 151 Milyar (diluar ibadah Haji & Umroh). Bahkan wisata halal menjadi sumber wisata terbesar dunia setelah negara Tiongkok dan diikuti oleh Amerika Serikat. Global market travel Index 2016 melaporkan bahwa Indonesia termasuk 4 besar destinasi tujuan turis muslim bersama Malaysia, Uni Emirat Arab dan Turki. Apalagi saat ini Indonesia sebagai negara penerima 12 penghargaan dari 16 kategori pada world halal tourism award 2016 di Abu Dhabi UEA. Oleh karena itu Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk mengembangkan wisata halal.

Betapa tidak? Merujuk laporan Sofyan Hospitality International menyatakan bahwa Indonesia saat ini menyandang sebagai negara dengan 3 terbaik dalam 30 atraksi dan wisata halal secara global. Bahkan untuk 5 kategori yaitu natural wonders, sensory wonders, culutral wonders, cullinary wonders dan adventure wonders Indonesia mengungguli negara Malaysia dan Uni Emirat Arab yang notabenenya terkenal dengan wisata halal. Mengandalkan 10 destinasi favorit wisatawan muslim yaitu Aceh, Sumatera Barat, Riau & Batam, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan & NTB (Lombok). Terjadi peningkatan wisatawan muslim yang berkunjung ke Indonesia dimana notabenenya berasal dari Timur Tengah sebanyak 32,31% yaitu dari 182.143 menjadi 240.989 wisatawan selama satu tahun terakhir. Serta meningkatnya rata-rata kedatangan wistawan muslim secara global sebanyak 15,7 % pada periode 2014 hingga 2016. Dimana pada tahun 2014 hanya ada 2 juta wisatawan kemudian terus meningkat hingga pada tahun 2016 berjumlah 2,7 juta wisatawan. Bahkan kedatangan wisatawan muslim meningkat 50% pada destinasi lombok dari tahun 2015 hingga 2016.

Namun ditengah potensi wisata halal yang semakin berkembang faktanya mendekati bulan Ramadhan. Semua sektor wisata halal seperti akomodasi, transportasi dan obyek wisata mengalami penurunan jumlah wisatawan yang berakibat pada keuntungan. Merujuk pada publikasi BPS (Asisten Deputi Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kepariwisataan) bahwa bulan Ramadhan pada tahun 2016 dan 2015 terjadi penurunan tingkat penghuni hotel berbintang di Indonesia sebanyak -5.51 poin. Begitupula pada tahun 2015 dan 2014 penurunan sebanyak -1.26 poin. Penurunan ini disinyalir karena wisatawan yang notabenenya muslim fokus pada ibadah puasa yang dilakukan sehingga adanya pembatasan minat untuk melakukan wisata.

Walaupun sejatinya hal ini sangat bertolakbelakang dengan konsep wisata halal. Seharusnya momentum bulan Ramadhan dan wisata halal bisa berjalan beriringan bahkan bisa menjadi agenda besar. Setidaknya ada beberapa konsep yang bisa ditawarkan guna mencapai potensi tersebut, yaitu pertama konsep pendidikan dimana pada bulan Ramadhan gairah keislaman masyarakat muslim pada umumnya sangat tinggi. Apalagi dalam hal mendalami agama, seperti mengadakan pembelajaran quran, kajian rohani Islam hingga konsep kehidupan sebagai muslim. Peran wisata halal dalam hal ini adalah menyediakan obyek wisata yang tidak hanya menawarkan hiburan semata namun juga menyediakan akan kebutuhan pendidikan Islam untuk masyarakat.

Kedua, konsep ibadah selama Ramadhan dimana ibadah puasa, sholat tarawih, tadarus (mengaji), sholat tarawih dan itikaf (Berdiam diri di masjid guna ibadah) menjadi utama. Oleh karena itu peran wisata halal amatlah penting yaitu menyediakan obyek wisata yang menyelenggarakan kegiatan ibadah selama Ramadhan dan mendukung suasana yang kondusif akan religiusitas. Hal ini sejalan dengan tema yang diusung oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kementrian Pariwisata pada bulan Ramadhan tahun ini yaitu Pesona Khazanah Ramadhan. Acara ini diantaranya menjalankan rutinitas ibadah Ramadhan yang nantinya akan dibimbing dan dibina oleh para Imam besar dari Arab Saudi, Suriah, Libanon dan Mesir. Acara ini dianggap akan lebih mendongkrak kedatangan turis wisatawan muslim domestik maupun mancanegara dikarenakan dapat menambah kekhusyu’an dan semangat dalam beribadah. Dimana targetnya seperti wisatawan domestik nantinya bisa merasakan suasana beribadah Ramadhan selayaknya di tanah suci Makkah maupun Madinah. Acara ini juga  menargetkan para wisatawan asal timur tengah yang notabenenya sedang mengalami musim panas di wilayahnya dan para wisatawan asal Eropa khususnya bagian Utara yang notabenenya menjalankan ibadah ramadhan dengan waktu yang sangat panjang.

Ketiga, konsep wisata kuliner dimana wisata halal berperan sangat besar dimana dituntut setiap obyek wisata harus mampu menyediakan konsumsi untuk sahur dan bukapuasa. Agenda seperti demo masakan daerah ketika menjelang waktu berbuka puasa nantinya bisa sebagai ajang promosi kuliner Indonesia kepada internasional. Walaupun begitu, dengan beberapa konsep tersebut masih perlunya kajian lebih lanjut mengenai berbagai  potensi wisata halal di Indonesia dan berbagai kekurangannya khususnya pada bulan Ramadhan.

 

 

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: